Skrining Pada Mata Bayi dan Anak
Skrining Mata pada Bayi
Periode usia 1-3 bulan pertama kehidupan merupakan periode kritis dalam perkembangan fungsi penglihatan. Identifikasi adanya kelainan pada masa dan terapi segera pada periode ini sangat penting untuk mencegah kelainan mata yang menetap.

Skrining mata pada bayi normal: Skrining mata pada bayi yang lahir cukup bulan dengan berat lahir > 1500 gram dilakukan untuk deteksi dini adanya kelainan kongenital/bawaan.

Pemeriksaan juga untuk mendeteksi kelainan mata akibat infeksi seperti "TORCH" (Toksoplasma, Rubella, CMV, dan Herpes). Kelainan kongenital yang dapat terjadi yaitu katarak kongenital, glaukoma kongenital, kelainan pada kornea dan saraf optik.
Skrining Mata pada Bayi Prematur
Skrining pada bayi prematur atau berat lahir < 1500 gram terutama dilakukan untuk mencegah kebutaan akibat ROP (Retinopathy of Prematurity). Pemeriksaan ini menggunakan alat khusus yaitu Indirect Ophthalmoscopy.

Pada ROP dapat terjadi kelainan pada pertumbuhan retina yaitu Ablasio Retina (terlepasnya lapisan retina) yang dapat mengakibatkan kebutaan. Bila ditemukan ROP, harus segera dilakukan laser atau operasi untuk mencegah terlepasnya lapisan retina.
Perkembangan penglihatan pada bayi:
-
Bayi usia 2-3 bulan seharusnya dapat melakukan kontak mata, bereaksi dengan senyuman, dan tertarik dengan benda yang berwarna cerah.
-
Bila bayi tidak menunjukkan respons tersebut, maka perlu pemeriksaan mata segera.
-
Bila pada usia 2-3 bulan timbul gerakan bola mata yang tidak normal, di mana mata tampak bergoyang atau nistagmus, hal ini merupakan tanda adanya kelainan penglihatan yang serius
Skrining Mata pada Anak Usia 3-4 Tahun
Skrining mata pada anak dilakukan sejak usia 3-4 tahun terutama untuk mendeteksi adanya kelainan refraksi yang dapat menyebabkan mata malas atau ambliopia yang menetap bila tidak diterapi secara dini.

Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan cara menyebutkan gambar, huruf atau angka pada masing-masing mata. Kemudian dilakukan koreksi kelainan refraksi yang dapat berupa minus, plus atau cylinder.

Faktor Risiko: Adanya kelainan refraksi terutama faktor genetik. Bila ada anggota keluarga dengan kelainan refraksi, maka kelainan tersebut dapat diturunkan pada anak. Gejala lain adanya kelainan refraksi yaitu bila anak sering memicingkan mata, melihat dengan kepala dimiringkan, atau menonton TV dari jarak dekat.
Skrining Mata Juling / Strabismus pada Anak
Strabismus atau mata juling merupakan salah satu penyebab mata malas atau ambliopia. Mata juling dapat timbul pada bayi dan anak. Mata juling pada anak dapat menurunkan kemampuan tajam penglihatan yang menetap, dan juga penglihatan 3 dimensi atau stereopsis yang buruk.
Pemeriksaan mata juling sebaiknya dilakukan sedini mungkin, dengan pemeriksaan menggunakan occluder.

Terdapat dua tipe strabismus yang sering ditemukan, yaitu:
-
Esotropia: Mata juling ke dalam.
-
Eksotropia: Mata juling ke luar.
Bila dipastikan strabismus, maka harus segera diberikan terapi. Beberapa tipe strabismus dapat diterapi dengan menggunakan kacamata, namun beberapa kasus memerlukan pembedahan dan eye patch.

Bagikan:
